Monday, 23 November 2015

GADAR MATERNITAS - SOLUSIO PLASENTA





TUGAS GADAR
SOLUSIO PLASENTA
Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah gadar maternitas



Dosen pembimbing :


Disusun Oleh :
Dedy Samsulhidayat
Joko Setyabudi
Muhamad Sayifullah
U’un Prapmaneta            (P.17420313088)

3 Reguler B

POLTEKKES KEMENKES SEMARANG
PRODI DIII KEPERAWATAN PEKALONGAN
2015/2016



BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Solusio plasenta atau disebut abruption placenta / ablasia placenta adalah separasi prematur plasenta dengan implantasi normalnya di uterus (korpus uteri) dalam masa kehamilan lebih dari 20 minggu dan sebelum janin lahir. Dalam plasenta terdapat banyak pembuluh darah yang memungkinkan pengantaran zat nutrisi dari ibu kejanin, jika plasenta ini terlepas dari implantasi normalnya dalam masa kehamilan maka akan mengakibatkan perdarahan yang hebat.
Perdarahan pada solusio plasenta sebenarnya lebih berbahaya daripada plasenta previa oleh karena pada kejadian tertentu perdarahan yang tampak keluar melalui vagina hampir tidak ada / tidak sebanding dengan perdarahan yang berlangsung internal yang sangat banyak pemandangan yang menipu inilah yang sebenarnya yang membuat solusio plasenta lebih berbahaya karena dalam keadaan demikian seringkali perkiraan jumlah, darah yang telah keluar sukar diperhitungkan, padahal janin telah mati dan ibu berada dalam keadaan syok.
Penyebab solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti, tetapi pada kasus-kasus berat didapatkan korelasi dengan penyakit hipertensi vaskular menahun, 15,5% disertai pula oleh pre eklampsia. Faktor lain diduga turut berperan sebagai penyebab terjadinya solusio plasenta adalah tingginya tingkat paritas dan makin bertambahnya usia ibu.
Gejala dan  tanda solusio plasenta sangat beragam, sehingga sulit menegakkan diagnosisnya dengan cepat. Dari kasus solusio plasenta didiagnosis dengan persalinan prematur idopatik, sampai kemudian terjadi gawat janin, perdrhan hebat, kontraksi uterus yang hebat, hipertomi uterus yang menetap.Gejala-gejala ini dapat ditemukan sebagai gejala tunggal tetapi lebih sering berupa gejala kombinasi.Solusio plasenta merupakan penyakit kehamilan yang relatif umum dan dapat secara serius membahayakan keadaan ibu.Seorang ibu yang pernah mengalami solusio plasenta, mempunyai resiko yang lebih tinggi mengalami kekambuhan pada kehamilan berikutnya.Solusio plasenta juga cenderung menjadikan morbiditas dan bahkan mortabilitas pada janin dan bayi baru lahir.
B.      TUJUAN
a.       Tujuan umum
Untuk mengetahui asuhan keparawatan pada ibu dengan Solusio plasenta
b.      Tujuan Khusus
a.       Untuk mengetahui pengertian Solusio plasenta
b.      Untuk mengetahui klasifikasi Solusio plasenta
c.       Untuk mengetahui etiologi Solusio plasenta
d.      Untuk mengetahui patofisiologi Solusio plasenta
e.       Untuk mengetahui manifiestasi klinis Solusio plasenta
f.       Untuk mengetahui komplikasi Solusio plasenta
g.      Untuk mengetahui penatalaksanaan Solusio plasenta
h.      Untuk mengetahui asuhan keperawatan Solusio plasenta
C.      MANFAAT
Manfaat dari penyusunan makalah ini yaitu memberikan sedikit informasi kepada mahasiswa tentang solusio plasenta sampai rujukan pasien dengan solusio plasenta.





BAB II
TINAJUAN TEORI
A.    PENGERTIAN
Solusio plasenta (abrubtio plasenta) adalah lepasnya sebagian atau seluruh plasenta dimana pada keadaan normal implantasinya diatas 22 minggu dan sebelum lahirnya anak.Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada fundus uteri/korpus uteri sebelum janin lahir (PB POGI,1991).
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. Yang terjadi pada kehamilan 22 minggu atau berat janin di atas 500 gr (Rustam 2002 )
Solusio plasenta adalah lepasnya plasenta dari tempat implantasinya pada korpus uteri sebelum bayi lahir.dapat terjadi pada setiap saat dalam kehamilan. Terlepasnya plasenta dapat sebagian (parsialis),atau seluruhnya(totalis) atau hanya rupture pada tepinya (rupture sinus marginalis) (dr.Handayo,dkk).
Jadi definisi yang lengkap adalah : solusio plasenta adalah sebagian atau seluruh plasenta yang normal implantasinya antara minggu 22 dan lahirnya anak (menurut buku obstetric patologi 2002).
B.     KLASIFIKASI
Klasifikasi dari solusio plasenta adalah sebagai berikut:
1)      Solusio plasenta parsialis : bila hanya sebagian saja plasenta terlepas dari tempat perlengkatannya.
a.   Solusio plasenta totalis ( komplek ) : bila seluruh plasenta sudah terlepas dari tempat perlengketannya.
b.   Prolapsus plasenta : kadang-kadang plasenta ini turun ke bawah dan dapat teraba pada pemeriksaan dalam.
2)      Solusio plasenta di bagi menurut tingkat gejala klinik yaitu :
a.    Kelas 0 : asimptomatik
Diagnosis ditegakkan secara retrospektif dengan menemukan hematoma atau daerah yang mengalami pendesakan pada plasenta. Rupture sinus marginal juga dimasukkan dalam kategori ini.
b.     Kelas 1 : gejala klinis ringan dan terdapat hampir 48 % kasus.
Solusio plasenta ringan yaitu : rupture sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak,sama sekali tidak mempengaruhi keadaan ibu atau janinnya.
Gejala : perdarahan pervaginam yang berwarna kehitam-hitaman dan sedikit sekali bahkan tidak ada,perut terasa agak sakit terus-menerus agak tegang,tekanan darah dan denyut jantung maternal normal,tidak ada koagulopati,dan tidak ditemukan tanda-tanda fetal distress.
c.     Kelas II : gejala klinik sedang dan terdapat hampir 27% kasus.
Solusio plasenta sedang dalam hal ini plasenta telah lebih dari seperempatnya tetapi belum sampai dua pertiga luas permukaannya.
Gejala : perdarahan pervaginan yang berwarna kehitam-hitaman,perut mendadak sakit terus-menerus dan tidak lama kemudian disusul dengan perdarahan pervaginam walaupun tampak sedikit tapi kemungkinan lebih banyak perdarahan di dalam,didinding uterus teraba terus-menerus dan nyeri tekan sehingga bagian bagian janin sulit diraba,apabila janin masih hidup bunyi jantung sukar di dengar dengan stetoskop biasa harus dengan stetoskop ultrasonic,terdapat fetal distress,dan hipofibrinogenemi (150 – 250 % mg/dl).
d.    Kelas III : gejala berat dan terdapat hampir 24% kasus.
Solusio plasenta berat,plasenta lebih dari dua pertiga permukaannya,terjadinya sangat tiba-tiba biasanya ibu masuk syok dan janinnya telah meninggal.
Gejala : ibu telah masuk dalam keadaan syok,dan kemungkinan janin telah meninggal,uterus sangat tegang seperti papan dan sangat nyeri,perdarahan pervaginam tampaknya tidak sesuai dengan keadaan syok ibu,perdarahan pervaginam mungkin belum sempat terjadi besar kemungkinan telah terjadi kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal,hipofibrinogenemi (< 150 mg/dl)
3)      Berdasarkan ada atau tidaknya perdarahan pervaginam
a.      Solusio plasenta ringan
Perdarahan pervaginam <100 -200 cc.
b.    Solusio plasenta sedang
Perdarahan pervaginam > 200 cc,hipersensitifitas uterus atau peningkatan tonus,syok ringan,dapat terjadi fetal distress.
c.      Solusio plasenta berat
Perdarahan pervaginam luas > 500 ml,uterus tetanik,syok maternal sampai kematian janin dan koagulopati.
4)      Berdasarkan ada atau tidaknya perdarahan pervaginam
a.      Solusio plasenta yang nyata/tampak (revealed)
Terjadi perdarahan pervaginam,gejala klinis sesuai dengan jumlah kehilangan darah,tidak terdapat ketegangan uterus,atau hanya ringan.
b.     Solusio plasenta yang tersembunyi (concealed)
Tidak terdapat perdarahan pervaginam,uterus tegang dan hipertonus,sering terjadi fetal distress berat. Tipe ini sering di sebut perdarahan Retroplasental.
c.      Solusio plasenta tipe campuran (mixed)
Terjadi perdarahan baik retroplasental atau pervaginam,uterus tetanik.
5)      Berdasarkan luasnya bagian plasenta yang terlepas dari uterus
a.      Solusio plasenta ringan
Plasenta yang kurang dari ¼ bagian plasenta yang terlepas.Perdarahan kurang dari 250 ml.
b.     Solusio plasenta sedang
Plasenta yang terlepas ¼ - ½ bagian. Perdarahan <1000 ml,uterus tegang,terdapat fetal distress akibat insufisiensi uteroplasenta.
c.      Solusio plasenta berat
Plasenta yang terlepas > ½ bagian,perdarahan>1000 ml,terdapat fetal distress sampai dengan kematian janin,syok maternal serta koagulopati.
C.    ETIOLOGI
Penyebab utama dari solusio plasenta masih belum diketahui dengan jelas. Meskipun demikian,beberapa hal di bawah ini di duga merupakan factor-faktor yang berpengaruh pada kejadiannya,antara lain sebagai berikut :
1)      Hipertensi esensial atau preeklampsi.
2)      Tali pusat yang pendek karena pergerakan janin yang banyak atau bebas.
3)      Trauma abdomen seperti terjatuh terkelungkup,tendangan anak yang sedang di gendong.
4)      Tekanan rahim yang membesar pada vena cava inferior.
5)      Uterus yang sangat kecil.
6)      Umur ibu (< 20 tahun atau > 35 tahun
7)      Ketuban pecah sebelum waktunya.
8)      Mioma uteri.
9)      Defisiensi asam folat.
10)  Merokok,alcohol,dan kokain.
11)  Perdarahan retroplasenta.
12)  Kekuatan rahim ibu berkurang pada multiparitas.
13)  Peredaran darah ibu terganggu sehingga suplay darah ke janin tidak ada.
14)  Pengecilan yang tiba-tiba pada hidromnion dan gamely.


D.    PATOFISIOLOGI
Solusio plasenta dimulai dengan terjadinya perdarahan ke dalam desidua basalis dan terbentuknya hematom subkhorionik yang dapat berasal dari pembuluh darah miometrium atau plasenta, dengan berkembangnya hematom subkhorionik terjadi penekanan dan perluasan pelepasan plasenta dari dinding uterus.
Apabila perdarahan sedikit, hematom yang kecil hanya akan sedikit mendesak jaringan plasenta dan peredaran darah utero-plasenter belum terganggu, serta gejala dan tandanya pun belum jelas. Kejadian baru diketahui setelah plasenta lahir, yang pada pemeriksaan plasenta didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang berwarna kehitaman. Biasanya perdarahan akan berlangsung terus-menerus/tidak terkontrol karena otot uterus yang meregang oleh kehamilan tidak mampu berkontraksi untuk membantu dalam menghentikanperdarahan yang terjadi. Akibatnya hematom subkhorionik akan menjadi bertambah besar, kemudian akan medesak plasenta sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta akan terlepas dari implantasinya di dinding uterus. Sebagian darah akan masuk ke bawah selaput ketuban, dapat juga keluar melalui vagina, darah juga dapat menembus masuk ke dalam kantong amnion, atau mengadakan ekstravasasi di antara otot-otot miometrium.
Apabila ekstravasasinya berlangsung hebat akanterjadi suatu kondisi uterus yang biasanya disebut dengan istilah Uterus Couvelaire,dimana pada kondisi ini dapat dilihat secara makroskopis seluruh permukaan uterus terdapat bercak-bercak berwarna biru atau ungu. Uterus pada kondisi seperti ini (Uterus Couvelaire) akan terasa sangat tegang, nyeri dan juga akan mengganggu kontraktilitas (kemampuan berkontraksi) uterus yang sangat diperlukan pada saat setelah bayi dilahirkan sebagai akibatnya akan terjadi perdarahan post partum yang hebat.
Akibat kerusakan miometrium dan bekuan retroplasenter adalah pelepasan tromboplastin yang banyak ke dalam peredaran darah ibu, sehingga berakibatpembekuan intravaskuler dimana-mana yang akan menghabiskan sebagian besar persediaan fibrinogen. Akibatnya ibu jatuh pada keadaan hipofibrinogenemia. Pada keadaan hipofibrinogenemia ini terjadi gangguan pembekuan darah yang tidak hanya di uterus, tetapi juga pada alat-alat tubuh lainnya.
E.   PATHWAYS
Sulistio plasenta


MK. Risiko  terjadinya shock hemoragik

 
 
Perdarahan
 

Hematom subkhronik







MK. Nyeri akut

 

 
Penekanan dan perluasan


 
Perdarahan Berkurang      Mendesak


 
Plasenta lahir


 
Cekungan







MK. Gangguan kekurangan volume cairan tubuh

 

 
Perdarahan terus menerus


 
Hematoma subkhronik







MK. Resiko tinggi terjadinya letal distres

 

 
Mendesak plasenta

Plasenta lepas dari implantasi
F.     MANIFESTASI KLINIS
Beberapa gejala dari solusio plasenta adalah sebagai berikut :
a.       Perdarahan yang disertai nyeri.
b.      Anemia dan syok,beratnya anemia dan syok sering tidak sesuai dengan banyaknya darah yang keluar.
c.       Rahim keras seperti papan dan terasa nyeri saat dipegang karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta hingga rahim teregang (uterus en bois).
d.      Palpasi sulit dilakukan karena rahim keras.
e.       Fundus uteri makin lama makin baik.
f.       Bunyi jantung biasanya tidak ada.
g.      Pada toucher teraba ketuban yang teregang terus-menerus (karena isi rahim bertambah).
h.      Sering terjadi proteinuria karena disertai preeklampsi.
G.    KOMPLIKASI
Komplikasi bisa terjadi pada ibu maupun pada janin yang dikandungnya dengan criteria :
a.       Komplikasi pada ibu
                                                            1.      Perdarahan yang dapat menimbulkan : variasi turunnya tekanan darah sampai keadaan syok,perdarahan tidak sesuai keadaan penderita anemis sampai syok,kesadaran bervariasi dari baik sampai syok.
                                                            2.      Gangguan pembekuan darah : masuknya trombosit ke dalam sirkulasi darah menyebabkan pembekuan darah intravaskuler dan diserti hemolisis,terjadinya penurunan fibrinogen sehingga hipofibrinogen dapat mengganggu pembekuan darah.
                                                            3.      Oliguria menyebabkan terjadinya sumbatan glomerulus ginjal dan dapat menimbulkan produksi urin makin berkurang.
                                                            4.      Perdarahan postpartum : pada solusio plasenta sedang sampai berat terjadi infiltrasi darah ke otot rahim,sehingga mengganggu kontraksi dan menimbulkan perdarahan karena atonia uteri,kegagalan pembekuan darah menambah bertanya perdarahan.
                                                            5.      Koagulopati konsumtif,DIC: solusio plasenta merupakan penyebab koagulopati konsumtif yang tersering pada kehamilan.
                                                            6.      Utero renal reflex
                                                            7.      Ruptur uteri
b.      Komplikasi pada janin
                                                            1.      Asfiksia ringan sampai berat dan kematian janin,karena perdarahan yang tertimbun dibelakang plasenta yang mengganggu sirkulasi dan nutrisi kearah janin. Rintangan kejadian asfiksia sampai kematian janin dalam rahim tergantung pada beberapa sebagian placenta telah lepas dari implantasinya di fundus uteri.
                                                            2.      Kelainan susunan system saraf pusat
                                                            3.      Retardasi pertumbuhan
                                                            4.      Anemi

H.    PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Solutio Plasenta
a.       Konservatif
·         Hanya untuk Solutio plasenta derajat ringan dan janin masih belum cukup bulan, apalagi jika janin telah meninggal.
·         Transfusi darah (1x24 jam) bila anemia (HB kurang dari 10,0%).
·         Apabila ketuban telah pecah, dipacu dengan Oksitosin 10 IU dalam larutan Saline 500cc, kemudian ditunggu sampai lahir pervaginan.
·         Bila 1 botol tersebut belum lahir,ulangi dengan 1 botol lagi dan ditunggu sampai lahir. Dengan langkah ini biasanya sebagian besar kasus dapat diselesaikan dengan baik (90%), sedangkan bagi yang gagal dapat dilakukan SC emergency.
b.      Pengobatan
1)      Umum
·         Pemberian darah yang cukup
·         Pemberian O2
·         Pemberian antibiotic
·         Pada syok yang berat diberi kortikosteroid dalam dosis tinggi.
2)      Khusus
a.       Terhadap hypofibrinogenaemi
·         Substansi dengan human fibrinogen 10 g atau darah segar.
·         Menghentikan fibrinolyse dengan trasylol ( proteinase inhibitor) 200.000 S i.v. selanjutnya kalau perlu 100.000 S/jam dalam infus.
b.      Untuk merangsang diurese : Mannit, Mannitol diurese yang baik lebih dari 30-40cc/jam.
Pada Solutio plasenta darah dari tempat pelepasan, mencari jalan keluar antara selaput janin dan dinding rahim dan pada akhirnya keluar dari serviks. Terjadilah pendarahan keluar atau pendarahan nampak. Kadang darah tidak keluar tetapi berkumpul di belakang plasenta membentuk hematom retroplasentair.pendarahan ini disebut pendarahan kedalam atau pendarahan tersembunyi. Pendarahan juga dapat terjadi keluar tetapi sebagian masuk kedalam ruang amion, terjadilah pendarahan keluar dan tersembunyi

I.       ASUHAN KEPERAWATAN
1)      Pengkajian
a.       Identitas klien secara lengkap
b.      Keluhan utama :
·         Pasien mengatakan perdarahan yang disertai nyeri.
·         Rahim keras seperti papan dan nyeri tekan karena isi rahim bertambah dengan dorongan yang berkumpul dibelakang plasenta, sehingga rahim tegang.
·         Perdarahan yang berulang-ulang.
c.       Riwayat penyakit sekarang
Darah terlihat merah kehitaman karena membentuk gumpalan darah, darah yang keluar sedikit banyak, terus menerus. Akibat dari perdarahan pasien lemas dan pucat. Sebelumnya biasanya pasien pernah mengalami hypertensi esensialis atau pre eklampsi, tali pusat pendek trauma, uterus yang sangat mengecil (hydroamnion gameli) dll.
d.      Riwayat penyakit masa lalu
Kemungkinan pasien pernah menderita penyakit hipertensi / pre eklampsi, tali pusat pendek atau trauma uterus.
e.       Riwayat psikologi
Pasien cemas karena mengalami perdarahan disertai nyeri, serta tidak mengetahui asal dan penyebabnya.
f.       Pemeriksaan fisik
1)      Keadaan umum
·         Kesadaran : composmetis s/d apatis
·         Postur tubuh : biasanya gemuk
·         Raut wajah : biasanya pucat
2)      Tanda-tanda vital
·         Tensi : normal sampai turun (syok)
·         Nadi : normal sampai meningkat (> 90x/menit)
·         Suhu : normal / meningkat (> 37o c)
·         RR : normal / meningkat (> 24x/menit)
3)      Pemeriksaan cepalo caudal
·         Kepala           : kulit kepala biasanya normal / tidak mudah mengelupas rambut biasanya rontok / tidak rontok.
·         Muka             : biasanya pucat, tidak oedema ada cloasma
·         Hidung          : biasanya ada pernafasan cuping hidung
·         Mata              : conjunctiva anemis
·         Dada                         : bentuk dada normal, RR meningkat, nafas cepat dan dangkal
·         Abdomen      :
ü  Inspeksi         : Perut besar (buncit), terlihat etrio pada area perut, terlihat linea alba dan ligra
ü  Palpasi           : Rahim keras, fundus uteri naik
ü  Auskultasi     : Tidak terdengar DJJ, tidak terdengar gerakan janin.
ü  Genetalia       :Hiperpregmentasi pada vagina, vagina berdarah / keluar darah yang merah kehitaman, terdapat farises pada kedua paha / femur.
ü  Ekstimitas     : Akral dingin, tonus otot menurun.
g.      Pemeriksaan Penunjang
v  Darah : Hb, hemotokrit, trombosit, fibrinogen, elektrolit.
v  USG untuk mengetahui letak plasenta,usia gestasi, keadaan janin.
v  Kardioktokgrafi : untuk mengetahui kesejahteraan janin
2)      Diagnosa Keperawatan
a.      Gangguan perfusi jaringan b.d.  perdarahan ditandai dengan conjungtiva anemis, akral dingin, Hb turun, muka pucat, dan lemas.
b.      Risiko tinggi terjadinya letal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang.
c.       Nyeri akut b.d.  kontraksi uterus ditandai terjadi distress/ pengerasan uterus, nyeri tekan uterus.
d.      Cemas b.d. kurang terpapar informasi klien mengenai keadaan patologi yang dialaminya.
e.       Risiko  terjadinya shock hemoragik b.d. perdarahan








3)      Rencana Keperawatan
No
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Rencana keperawatan
Rasional
1.       
Gangguan perfusi jaringan b.d.  perdarahan ditandai dengan conjungtiva anemis, akral dingin, Hb turun, muka pucat, dan lemas.
Setelah diberikan askep, diharapkan perfusi jaringan pasien adekuat, dengan kriteria hasil :
·         Conjunctiva tidak anemis
·         Akral hangat
·         Hb normal
·         Muka tidak pucat, dan pasien tidak lemas.

1.      Monitor tanda tanda vital
2.      Observasi tingkat pendarahan setiap 15-20 menit
3.      Catat intake dan output
4.      Kolaborasi dalam pemberian terapi infuse isotonic
5.      Kolaborasi dalam pemberian tranfusi darah apabila Hb rendah
1.      TD, frekuensi nadi yang rendah, frekuensi RR dan suhu tubuh yang tinggi menunjukkan gangguan sirkulasi darah
2.      Mengantisipasi terjadinya shock
3.      Produksi urin yang kurang dari 30 ml/jam menunjukkan penurunan fungsi ginjal
4.      Cairan infus isotonic dapat mengganti volume darah yang hilang akibat pendarahan
5.      Tranfusi darah dapat menggan volume darah yang hilang akibat pendarahan
2.       
Risiko tinggi terjadinya letal distress berhubungan dengan perfusi darah ke plasenta berkurang .
Setelah diberikan askep, diharapkan tidak terjadi fetal distress, dengan kriteria hasil:
·         DJJ normal/terdengar
·         Adanya pergerakan bayi
·         Bayi lahir selamat

1.      Jelaskan risiko terjadinya distress janin/kematian janin pada ibu
2.      Observasi perubahan frekuensi dan pola DJ janin
3.      Berikan O2 10-12 liter dengan masker jika terjadi tanda-tanda fetal distress
1.      Memberikan penjelasan mengenai  risiko terjadinya distress janin pada klien membuat klien kooperatif pada setiap tindakan yang akan diberikan
2.      Penurunan frekuensi plasenta mengurangi kadar oksigen janin sehingga menyebabkan perubahan frekuensi jantung janin
3.      Meningkatkan supali oksigen janin
3.
Nyeri akut b.d.  kontraksi uterus ditandai terjadi distress/ pengerasan uterus, nyeri tekan uterus
Setelah diberikan askep, diharapkan klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dideritanya, dengan kriteria hasil :
·         Klien dapat melakukan tindakan untuk mengurangi nyeri.
·         Klien kooperatif dengan tindakan yang diberika

1.      Jelaskan penyebab nyeri pada klien
2.      Ajarkan teknik relaksasi distraksi pernapasan
3.      Berikan posisi yang nyaman (miring ke kiri / kanan)
4.      Berikan teknik relaksasi massage pada perut dan punggung
5.      Libatkan suami dan keluarga dalam tindakan pengontrolan nyeri
6.      Kolaborasi dalam pemberian obat analgetik
1.      Memberikan informasi mengani penyabab nyeri yang dideritanya akan membuat klien kooperatif dengantindakan yang akan diberikan
2.      Teknik relaksasi distraksi pernapasan dapat mendorong klien relaks dan memberikan klien cara mengatasi dan mengontrol tingkat nyeri
3.      Posisi miring mencegah penekanan pada vena cava
4.      Meningkatkan relaksasi dan meningkatkan kooping dan kontrol klien terhadap nyeri
5.      Melibatkan suami dan keluarga dapat memberikan dukungan mental kepada klien
6.      Obat analgetik dapat mengurangi nyeri yang dirasakan klien dengan memblok impuls nyeri
4.       
Cemas b.d. kurang terpapar informasi klien mengenai keadaan patologi yang dialaminya
Setelah diberikan askep, diharapkan klien tidak cemas dan dapat mengerti tentang keadaannya, dengan kriteria hasil :
·         Klien melaporkan cemas berkurang
·         Klien tampak tenang dan tidak gelisah

1.      Anjurkan klilen untuk mengemukakan hal-hal yang dicemaskan
2.      Beri penjelasan tentang kondisi janin
3.      Beri penjelasan tentang kondisi klien
4.      Anjurkan keluarga untuk mendampingi dan memberi dukungan kepada klien
5.      Anjurkan penggunaan/kontinuitas teknik pernapasan dan latihan relaksasi.
1.      Mengungkapkan perasaan tentang hal-hal yang dicemaskan dapat mengurangi beban pikiran klien
2.      Mengurangi kecemasan klien mengenai kondisi janinnya
3.      Mengurangi kecemasan klien mengenai kondisinya
4.      Dukungan keluarga dapat memberikan rasa aman kepada klien dan mengurangi kecemasan klien
5.      Memberikan perasaan rileks sehingga dapat menurunkan kecemasan klien
5         
Risiko  terjadinya shock hemoragik b.d. perdarahan
Setelah diberikan askep, diharapkan shock hipovolemik tidak terjadi, dengan kriteria hasil :
·         Perdarahan berkurang
·         TTV normal
·         Kesadaran komposmentis

1.      Kaji pendarahan setiap 15-30 menit
2.      Oservasi TTV setiap 15 menit dan apabila TTV normal, observasi TTV dilakukan setiap 30 menit
3.      Awasi adanya tanda-tanda syok, pucat, keringat dingin, dan kepala pusing.
4.      Kolaborasi dalam pemberian terapi cairan
1.      Mengetahui adanya gejala syok sedini mungkin.
2.      Mengetahui kondisi klien dan untuk mengetahui adanya gejala syok sedini mungkin
3.      Mendeteksi adanya gejala syok sedini mungkin
4.      Mempertahankan volume cairan sehingga sirkulasi bisa adekuat











BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Dari uraian di atas penulis dapat menyimpulkan :
1)      Pada solusio plasenta,darah dari tempat pelepasan  akan mencari jalan keluar antara selaput janin dan dinding rahim hingga akhirnya keluar dari serviks hingga terjadilah perdarahan keluar atau perdarahan terbuka.Terkadang darah tidak keluar,tetapi berkumpul di belakang plasenta membentuk hematom retroplasenta. Perdarahan semacam ini disebut perdarahan ke dalam atau perdarahan tersembunyi.
2)      Indikasi section saesaria dapat dilihat dari sisi ibu dan /atau anak. Tindakan section caesaria dipilih bila persalinan diperkirakan tidak akan berakhir dalam waktu singkat (dengan dilatasi 3-4 cm kejadian solusio plasenta pada nulipara).
3)      Sikap paling utama dari bidan dalam menghadapi solusio plasenta adalah segera melakukan rujukan ke rumah sakit.
B.     Saran
Bagi ibu yang mempunya hipertensi esensial atau preeklampsi.dan  penyebab lain yang dapat memicu terjadinya Solusio plasenta, harus dapat memperhatikan pencetus terjadinya Solusio plasenta, dengan cara memperhatikan pencetus terjadinya Solusio plasenta.















DAFTAR PUSTAKA

Fadlun,Feryanto,Achmad.2012. Asuhan Kebidanan Patologis.Jakarta:Salemba Medika
Maryunani,Anik.2012. Asuhan Kegawatdaruratan Dalam Kebidanan.Jakarta :TIM
Yeyeh,Ai Rukiyah.2010.Asuhan Kebidanan Patologi.Jakarta:Trans Info Media
Obstetric,William.Jakarta





No comments:

Post a Comment