Wednesday, 26 March 2014

FARMAKOLOGI - ANTIBIOTIK



ANTIBIOTIK
Obat-obat antibiotik ditujukan untuk mencegah dan mengobati penyakit-penyakit infeksi. Pemberian antibiotik pada kondisi yang bukan disebabkan oleh bakteri banyak ditemukan dari praktek sehari-hari, baik di puskesmas (primer), rumah sakit, maupun praktek swasta. Ketidak tepatan diagnosis, pemilihan antibiotik, indikasi hingga dosis, cara pemberian, frekuensi dan lama pemberian menjadi penyebab tidak kuatnya pengaruh infeksi dengan antibiotik (Wattimena, 1991).
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat di rumah sakit banyak terjadi seperti belum jelas penyebab penyakit (diagnosis belum jelas), pemilihan yang hanya didasarkan pada pengalaman (tanpa didukung bukti ilmiah), cara pemberian yang kurang tepat, frekuensi dan lama pemberian yang kurang atau justru berlebihan dan seringnya antibiotik diganti dengan antibiotik lain yang berbeda khasiat dan indikasinya karena alasan persediaan habis (Dwiprahasto, 1998). Penggunaan antibiotik secara berlebihan merupakan salah satu penyebab terjadinya resistensi kuman.
A.      Pengertian
Antibiotik berasal dari bahasa latin yang terdiri dari anti = lawan dan bios = hidup, adalah zat-zat yang dihasilkan oleh mikroba terutama fungi dan bakteri tanah, yang dapat menghambat pertumbuhan atau membasmi mikroba jenis lain, sedangkan toksisitasnya(racun) terhadap manusia relatif kecil.
Antibiotik pertama kali ditemukan oleh sarjana Inggris Dr.Alexander Flemming yaitu antibiotik Penisilin pada tahun 1982 di London. Tetapi penemuan ini baru dikembangkan dan digunakan dalam terapi pada tahun 1941 oleh Dr. Florey. Kemudian banyak zat dengan khasiat antibiotik diisolir oleh penyelidik-penyelidik lain diseluruh dunia, namun toksisitasnya hanya beberapa saja yang dapat digunakan sebagai obat. Antibiotik juga dapat dibuat secara sintetis, atau semi sintetis.
B.       Golongan Obat Antibiotik
1.      Penisilin
Penisilin diperoleh dari jamur Penicilium chrysogeneum. Antibiotik penisilin secara historis penting karena mereka adalah obat pertama yang efektif melawan penyakit yang sebelumnya serius seperti sifilis dan infeksi Staphylococcus. Penisilin bersifat bakterisid dan bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel. Pensilin terdiri dari :
a.         Benzil Penisilin Dan Fenoksimetil Penisilin
1)        Benzil Penisilin (Penisilin G)
Antibiotik ini hanya dalam bentuk injeksi karena diinaktifkan oleh asam lambung dan penyerapan dari saluran cerna rendah. Benzilpenisilin diinaktifkan oleh bakteri penghasil beta laktamase.
Indikasi
infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis kronis, salmonelosis invasive, gonore.
Kontraindikasi
hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
Peringatan
riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever, leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi
obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Dosis
Melalui injeksi intramuskular atau injeksi perlahan melalui pembuluh darah atau melalui infus :
·         2.4 – 4.8 g sehari dibagi dalam 4 kali pemberian, dapat ditingkatkan pada infeksi berat;
·         PREMATUR atau BAYI BARU LAHIR <1 minggu, 50 mg/kg BB sehari dibagi dalam 2 kali pemberian;
·         BAYI BARU LAHIR 1-4 minggu, 75 mg/kg BB sehari dibagi dalam 3 kali pemberian;
·         BAYI-ANAK 1 bulan – 12 tahun, 100 mg/kg BB sehari dibagi dalam 4 kali pemberian. Pemberian melalui pembuluh darah direkomendasikan pada usia <12 bulan.
·         Endokarditis : injeksi lambat melalui pembuluh darah atau melalui infus, 7.2 g sehari dibagi dalam 6 dosis sampai 14.4 g sehari dibagi dalam 6 dosis.
Efek amping
reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leukopoia, trombositopenia, diare pada pemberian per oral.

2)        Fenoksimetilpenisilin (Penisilin V)
Fenoksimetilpenisilin adalah penisilin yang aktif secara oral (diberikan melalui mulut). Obat ini kurang aktif dibandingkan benzilpenisilin. Obat ini hanya sesuai pada kondisi konsentrasi jaringan tinggi tidak diperlukan
Indikasi
tonsillitis, otitis media, erysipelas, tonsilitis, faringitis, infeksi kulit, profilaksis demam reumatik, gingivitis sedang hingga parah.
Dosis
dewasa 500 mg tiap 6 jam, dapat naik 750 mg tiap 6 jam pada infeksi berat. Anak 0 -1 tahun 62,5 mg tiap 6 jam. Anak 1-5 tahun 125 mg tiap 6 jam.
Efek samping
reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leukopoia, trombositopenia, diare pada pemberian per oral, pensilin harus diberi 1 jam sebelum makan.

b.         Pensilin Tahan Penisilinase
1)        Kloksasilin
Indikasi
infeksi karena stapilokokus yang memproduksi pensilinase.
Kontraindikasi
hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
Peringatan
riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever, leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi
obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Dosis
oral 500 mg tiap 6 jam, diberikan 30 menti sebelum makan. IM 250 mg taip 4-6 jam. IV lambat infus 500 mg tiap 4 -6 jam. Dalam kasus yang berat dosis dapat dianaikkan 2 kali.
Efek samping
reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leukopoia, trombositopenia, diare pada pemberian per oral.

2)        Flukoksasilin
Indikasi
infeksi karena stapilokokus yang memproduksi pensilinase.
Dosis
oral 250 mg tiap 6 jam diberikan 30 menit sebelum makan. IM 250 mg tiap 6 jam. IV lambat atau infus 0,25 – 1 gr tiap 6 jam. Pada infeksi berat dosis dapat ditingkatkan 2 kali.
Anak kurang dari 2 tahun ¼ dosis dewasa. Anak 2 -10 tahun ½ dosis dewasa.

c.         Pensilin Spectrum Luas
1)        Ampisilin
Indikasi
infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis kronis, salmonelosis invasive, gonore.
Kontraindikasi
hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
Peringatan
riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever, leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi
obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Dosis
oral 0,25-1 gram tiap 6 jam, diberikan 30 menti sebeum makan. Untuk gonore 2-3,5 gram dodis tunggal, ditambah 1gram. Infeksi saluran kemih : 500 mg tiap 8 jam. IM, IV atau infuse : 500 mg tiap 4-6 jam. Anak di bawah 10 tahun : setengah dosis dewasa.
Efek samping
reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leukopoia, trombositopenia, diare pada pemberian per oral.

2)        Amoksisilin
Amoksisilin (amoxicillin) adalah antibiotik yang paling banyak digunakan. Hal ini karena amoksisilin cepat diserap di usus dan efektif untuk berbagai jenis infeksi.
Indikasi
infeksi saluran kemih, otitis media, sinusitis, bronchitis kronis, salmonelosis invasive, gonore.
Interaksi
Amoksisilin dapat berinteraksi dengan obat lain, seperti aspirin, indometasin, sulfinpyrazone, allopurinol, probenesid, antibiotik aminoglikosida, fenilbutazon, oxyphenbutazone dan pil KB (ada kemungkinan mengurangi efektivitas pil ini).
Dosis
oral : dewasa 250-500 mg tiap 8 jam. Infeksi saluran nafas berat / berulang 3 gram tiap 12 jam. Anak di bawah 10 tahun 125-250 mg tiap 8 jam. Pada infeksi berat dapat diberikan dua kali lebih tinggi terapi oral jangka pendek.
Abssis gigi : 3 gram diulangi 8 jam kemudian
Infeksi saluran kemih 3 gram diulangi stelah 10- 12 jam
Gonore : 2-3 g dosis tunngal, ditambah 1 gr probenesid.
Otitis media : pada anak 3-10 tahun 750 mg dua kali sehari selama 2 hari
Injeksi IM : dewasa 500 mg tiap 8 jam
Anak : 50-100 mg/ hari dalam dosis terbagi injeksi IV atau infus : 500 mg tiap 8 jam, dapat dinaikkan 1 gr tiap 6 jam.

d.        Penisilin Anti Pseudomona
1)        Tikarsilin
Indikasi
infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas dan proteus.
Kontraindikasi
hipersensitivitas ( alergi ) terhadap penisilin.
Peringatan
riwayat alergi, gangguan fungsi ginjal, lesi eritematous pada glandular fever, leukemia limfositik kronik, dan AIDS.
Interaksi
obat ini berdifusi dengan baik dengan jaringan dan cairan tubuh. Tapi penetrasi ke dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami infeksi.
Dosis
injeksi IV lambat atau infuse 15-20 gr perhari dalam dosis terbagi.
Anak : 200-300 mg/kg/hari dalam dosis
Untuk infeksi saluran kemih secara IM atau IV lambat : dewasa 3-4 gr perhari dalam dosis.
Anak : 50-100 mg/kg/hari.
Efek samping
reaksi alergi berupa urtikaria, demam, nyeri sendi, angioudem, leukopoia, trombositopenia, diare pada pemberian per oral.

2)        Piperasilin
Indikasi
infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas aerugenosa.
Dosis
IM atau IV lamabt atau infus 100-150 mg/kg/hari. Pada infeksi berat 200-300 mg/kg/hari. Pada infeksi lebih berat 16 gr perhari dosis tunggal diatas 2 gr, hanya diberikan secara IV

3)        Sulbenisilin
Indikasi
infeksi yang disebabkan oleh pseoudomonas aerugenosa.
Dosis
dewasa 2-4 gr perhari. Anak 40-80 mg/kg/hari diberikan secara Im atau IV, dibagi dalam dua kali pemberian

2.      Sefalosforin
Sefalosforin merupakan antibiotic betalaktam yang bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding mikroba. Farmakologi sefalosforin mirip dengan penisilin, ekseresi terutama melalui ginjal dan dapat di hambat probenisid. Sefalosforin terbagi atas :
a.         Sefadroksil
Indikasi
infeksi baktri gram (+) dan (-)
Kontraindikasi
hipersensitivitas terahadap sefalosforin, porfiria
Peringatan
alergi terhadap penisilin, gangguan fungsi ginjal, kehamilan dan menyusui ( tetapi boleh digunakan ) fositip palsu untuk glukosa urin ( pada pengujian untuk mengurangi jumlah obat)
Interaksi
sefalosforin aktif terhadap kuman garm (+) dan (-) tetapi spectrum anti mikroba masing-masng derrivat bervariasi.
Dosis
berat badan lebih dari 40 kg : 0.5 – 1 gr dua kali sehari. Infeksi jaringan lunak, kulit, dan saluran kemih tanpa komplikasi 1gr/hari.
Anak kurang dari 1 thn, 25 mg/kg/hari. Anak 1 – 6 thn 500 mg dua kali sehari.
Efek samping
diare dan colitis yang disebabkan oleh antibiotic ( penggunaan dosis tinggi) mual dan mumtah rasa tidak enak pada saluran cerna sakit kepala, Dll

b.         Sefrozil
Indikasi
ISPA, eksaserbasi akut dari bronchitis kronik dan otitis media.
Dosis
ISPA, kulit dan jaringan lunak 500 mg sekali sehari, biasanya untuk 10 hari. Anak 6 bulan – 12 thn 20 mg/ kg BB ( max. 500mg ) sekali sehari. Eksaserbasi akut dari bronchitis kronik 500mg setiap 12 jam, biasanya untuk 10 hari. Otitis media anak 6 bulan – 12 thn 20 mg/kg BB ( max. 500 mg ) setiap 12 jam.

c.         Sefotakzim
Indikasi
profilaksis pada pembedahan, epiglotitis karena hemofilus, meningitis.
Dosis
pemberian IM, IV atau infuse: 1 gr tiap 12 jam, dapat di tingkatkan sampai 12 gr/hari dalam 3 – 4 kali pemberian. ( dosis diatas 6 gr/ hari diperlukan untuk infeksi pseudomonas). Neonatus : 50 mg/kg/hari dalam 2 – 4 kali pemberian. ( pada infeksi berat dapat ditingkatkan menjadi 150 – 200 mg/kg/hari.
Anak ; 100 – 150 mg/kg/hari dalam 2 – 4 kali pembarian. ( pada infeksi berat dapat ditingkatkan menjadi 200 mg/kg/hari).

d.        Sefuroksim
Indikasi
profilaksis tindakan bedah,lebih aktif terhadap H. influenzae dan N gonorrhoeae.
Dosis
oral : untuk sebagian besar kasus termasuk infeksi saluran nafas atas dan bawah : 250 mg 2 kali sehari.
Infeksi saluran kemih : 125 mg dua kali sehari

e.         Sefamandol
Indikasi
profilaksis pada Tindakan 1 pembedahan
Dosis
injeksi IM atau IV selama 3-5 menti atau infuse 0,5-2 g tiap 4-8 jam.bayi diatas 1 bulan, 50-100 mg/kg/hari

f.       Sefpodoksim
Indikasi
infeksi saluran napas tetapi. Penggunaan ada faringitis dan tonsillitis, hanya yang kambuhan, infeksi kronis atau resisten terhadap antbiotika lain.
Dosis
infeksi saluran napas atas; 100 mg “dua kali sehari bersama makanan (200 mg dua kali sehari pada sinusitis). infeksi, saluran napas bawah (termasuk bionkitis dan pneumonia) 100-200 mg dua kali sehari bersama makanan.
ANAK dibawah 15 hari tidak dianjurkan, ;
15 hari-16 bulan 8 mg/kg per hari terbagi ;
Dalam 2 dosis, 6 bulan-2 tahun 40 mg 2 kali sehari, 3-8 tahun 80 mg 2 kali sehari, diatas 9 tahun 100 mg 2 kali sehari.
Bahan (Sankyo Co.Lld-Japan/Kimia Farma)
Tablet 100 mg (K).
3.      Tetrasiklin
Tetrasiklin merupakan antibiotik dengan spectrum luas. Penggunaannya semakin lama semakin berkurang karena masalah resistansi. Tetrasiklin terbagi atas :
a.         Tetrasiklin
Indikasi
eksaserbasi bronkitri kronis, bruselosis klamidia, mikoplasma, dan riketsia, efusi pleura karena keganasan atau sirosis, akne vulganis.
Peringatan
gangguan fungsi hati (hindari pemberian secara i.v), gangguan fungsi ginjal, kadang-kadang menimbulkan fotosintesis.
Efek samping
mual, muntah, diare, eritema.

b.         Demeklosiklin Hidroklorida
Indikasi
gangguan sekresi hormone antidiuretik
Dosis
150 mg tiap 6 jam atau 300 mg tiap 12 jam.
Efek samping
Fotositivtas lebih sering terjadi, pernah dilaporkan terjadinya diabeters indipidus nefrogenik.

c.         Doksisiklin
Indikasi
tetrasiklin.bruselosis (kombniasi dengan tetrasiklin), sinusitis kronis, pretatitis kronis, penyakit radang perlvis (bersama metronidazo)
Dosis
L 200 mg pada hari pertama, kemudian 100 mg perhari pertama, kemudian 100 per hari. Pada infeksi berat 200 mg per hari.
Akne: 50 mg per hari selama 6-12 mingu atau lebih lama.
Catatan: kapsul harus ditelan dalam bentuk utuh bersama dengan makanan dan air yang cukup, dalam posisi duduk atau berdiri.

d.        Oksitetrasiklin
Indikasi
eksaserbasi bronkitri kronis, bruselosis (lihat juga keterangan diatas) klamidia, mikoplasma, dan riketsia, efusi pleura karena keganasan atau sirosis, akne vulganis.
Kontrsindikasi
porfiria.
Dosis
Dosis: 250-500 mg tiap 6 jam
Oxytetracycline ( generic ) cairan Inj. 50 mg/ vial (K)
Teramycin (Pfizer Indonesia) cairan inj. 50 mg/ vial. Kapsul 250 mg (K).

4.      Aminoglikosida
Aminoglokosida bersifat bakterisidal dan aktif terhadap bakteri gram posistif dan gram negative. Aminasin, gentamisin dan tobramisin d juga aktif terhadap pseudomonas aeruginosa. Streptomisin aktif teradap mycobacterium tuberculosis dan penggunaannya sekarang hamper terbatas untuk tuberkalosa.
a.       Amikasin
Indikasi
infeksi generatif yang resisten terhadap gentamisin.
Kontraindikasi
kehamilan, miastenia gravis.
Peringatan
gangguan funsi ginjal, bayi dan usia lanjut ( (sesuaikan dosso, awasi fungsi ginjal, pendengaran dan vestibuler dan periksa kadar plasma), hindari penggunaan jangka panjang.
Dosis
injeksi intra muskuler, intravena lambat atau infuse 15 mg/ kg/ hari dibagi dalam 2 kali pemberian. Lihat juga catatan diatas.
Catatan: Kadar pucak ( 1 jam ) tidak boleh lebih dari 30 mg/ liter dan kadar lembah tidak boleh lebih dari 10 mg / liter.
Efek samping
gangguna vestibuler dan pendengaran, netrotoksista, hipomagnesemia pada pemberian jangka panjang colitis karena antibiotic.
Catatan: Kadar pucak ( 1 jam ) tidak boleh lebih dari 30 mg/ liter dan kadar lembah tidak boleh lebih dari 10 mg / liter.
b.      Gentamisin
Indikasi
septicemia dan sepsis pada neonatus, meningitis dan infeksi SSP lainnya. Infeksi bilier, pielonefritis dan prostates akut, endokarditis karena Str viridans. Atau str farcalis (bersama penisilin, pneumonia nosokomial, terapi tambahan pad meningitis karena listeria.
Dosis
injeksi intramuskuler, intravena lambat atau infuse, 2-5 mg/ kg/ hari ( dalam dosis terbagai tiap 8 jam) lihat juga keterangan diatas sesuaikan dosis terbagi tiap 8 jam ) lihat juga keterangan fungsi ginjal dan ukur kadar dalam plasma.
Anak dibawah 2 minggu , 3 mg/ kg tiap 12 jam, 2 minggu samapi 2 tahun, 2 mg/ kg tiap 8 jam.
Infeksi intratekal : 1 mg. hari, daapt dinaikkan samai 5 mg / hari disertai pemberian intramuscular 2-4 mg/ kg/ hari dalam dosis terbagi tiap 8 jam. Profilaksis endikarditid pada deasa 120 mg. untuk anak dibawah 5 tahun 2 g / kg.
Catatan : kadar puncak ( 1 jam) tidak boleh lebih dari 10 mg/ liter dan kadar lembah (trough) tidak boleh lebih dari 2 mg/ liter.
c.       Neomisin Sulfat
Indikasi
Sterilisasi usus sebelum operasi
Kontraindikasi
kehamilan, miastenia gravis, obstruksi usus dan gangguan fungsi ginjal.
Dosis
Oral, 1 g tiap 4 jam.

d.      Netilmisin
Indikasi
berat kuman gram negative yang resisten terhadap gentainisin.
Dosis
Infeksi intramuskuler, intravena lambat atau infuse: 4-6 mg/kg/hari sebagai dosis tunggal atau dosis terbagi tiap 8-12 jam. Pada infeksi berat dosis dapat naik sampai 7,5 mg/kg/hari dalam tiga kali pemberian (dosis segera diturunkan bila terdapat perbaikan klinis, biasanya setelah 48 jam). NEONATUS kurang dari 1 minggu 3 mg/kg tiap 12 jam; diatas 1 minggu, 2,5-3 mg/kg tiap 12 jam; ANAK 2-2,5 mg/kg tiap 8 jam
Infeksi saluran kemih, 150 mg/hari (dosis tunggal) selama 5 hari.
Gonore: 300 mg Dosis tunggal
Catatan : Kadar puncak (1 jam) tidak boleh lebih dari 12 mg/liter dan kadar lembah tidak boleh lebih dari 2 mg/liter.

5.      Kloramfenikol
Kloramfenikol merupakan antibiotic dengan spectrum luas, namun bersifat toksik. Obat ini seyogyanya dicadangkan untuk infeksi berat akibat haemophilus influenzae, deman tifoid, meningitis dan abses otak, bakteremia dan infeksi berat lainnya. Karena toksisitasnya, obat ini tidak cocok untuk penggunaan sistemik.

Indikasi
infeksi berat akibat haemophilus influenzae, deman tifoid, meningitis dan abses otak, bakteremia dan infeksi berat lainnya.
Kontraindikasi
wanita hamil, penyusui dan pasien porfiria
Peringatan
hindari pemberina berulang dan angka panjang. Turunkan dosis pada gangguan fungsi hati dan ginjal. Lakukan hitung jenis sel darah sebelum dan secara berkala selaama pengobatan. Pada neonatus dapat menimbulkan grey baby syndrome. ( periksa kadar dalam plasma).
Dosis
Oral, infeksi intravena atau infuse: 50 mg/ kg/ hari dibagi dalam 4 dosis pada infeksi berat seperti septicemia dan meningitis, dosis dapat digandakan dan segera diturunkan bila terdapat perbaikan klinis).
ANAK: epiglotitis hemofilus, meningitis pululenta, 50-100 mg/ kg/ hari dalam dosis terbagi. BAYI dibawah 2 minggu, 25 mg/ kg hari ( dibagi dalam 4 dosis). 2 minggu- 1 tahun, 500 mg/kg/ hari ( dibagi 4 dosis).
Keterangan : pengukuran kadar dalam plasma harus dilakukan pada neonatus dan dianjurkan pada anak dibawah 4 tahun.
Efek samping
kelainan darah yang reversible dan irevesibel seperti anemia anemia aplastik ( dapat berlanjut mejadi leukemia), neuritis perifer, neuritis optic, eritem multiforme, mual, muntah, diare, stomatitis, glositits, hemoglobinuria nocturnal.

6.      Makrolid
a.       Eritromisin
Eritromisin memiliki spectrum antibakteri yang hamper sama dengan penisilin, sehingga obat ini digunakan sebagai alternative penisilin.
Indikasi
sebagai alternative untuk pasien yang alergi penisilin untuk pengobatan enteritis kampilobakter, pneumonia, penyakit legionaire, sifilis, uretritis non gonokokus, protatitis kronik, akne vulgaris, dan rpofilaksis difetri dan pertusis.
Kontraindikasi
penyakit hati (garam estolat).
Peringatan
Ganguan fungsi hati dan porfiria ginjal, perpanjangan interval QT (pernah dilaporkan takikardi veatrikuler); porfiria, kehamilan (tidak diketahui efek buruknya) dan menyusul (sejumlah kecil masuk ke ASI).
Interaksi
Aritmia: hindari penggunaan bersama astemizol atau terfenadin. Hindari juga kombinasi dengan cisaprid.
Dosis
oral: Dewasa dan Anak di atas 8 tahun, 250-500 mg tiap 6 jamatau 0,5-1 g tiap 12 jam ( lihat keterangan diatas); pad infeksi berat dapat dinaikkan sampai 4 g/ hari. Anak sampai 2 tahun 125 mg tiap 6 jam; 2-8 tahun 250 mg tiap 6 jam. Untuk infeksi berat dosis dapat digandakan.
Akne: 250 mg dua kali sehari kemudina satu kali sehari setelah 1 bulan.
Sifilif stadium awal, 500 mg 4 kali sehari selama 14 hari.
Infuse intravera: infeksi berat pada dewasa dan anak, 50 mg/ kg/ hari secara dewasa dan anak, 50 mg/ kg/ hari secara infuse kontinu atau dosis terbagi tiap 6 jam; infeksi ringan 25 mg/ kg/ hari bil pemberina per oral tidak memungkinkan.
Efek samping
mual muntah, nyeri perut, diare; urtikaria, ruam dan reaksi alergi lainnya; gangguan pendengaran yang reversible pernah pernah dilaorkan setelah pemberian dosis besar; ikterus kolestatik dan gangguan jantung (aritmia dan nyeri dada)

b.      Azitromisin
Indikasi
infeksi saluran napas, otitis media, infeksi klamida daerah genital tanpa kompliasi.
Kontraindikasi
gangguan fungsi hati
Dosis
500 mg sekali sehari selama 3 hari
Anak diatas 6 bulan, 10 mg/ kg sekali sehari selama 3 hari; berat badan 26-35 kg. 300 mg sekali sehari selama 3 hari; berat badan 30-45 kg 400 mg sekali sehari selama 3 hari infeksi klamidia genital, 1gram sebagai dosis tunggal.
Efek samping
fotosensitivitas dan neutropenia ringan

c.       Klaritromisin
Indikasi
infeksi saluran napas, infeksi ringan dan sedang pada kulit dan jaringan lunak; terapi tambahan untuk eradikasi helicobacter pylori pada tukak duodenum
Peringatan
turunkan dosis pada gangguan fungsi ginjal; wanita hamil dan meyusui; sakit kepada gangguna pengecapan, stomatitis, glositis, ikterus-johnson; pada pemberian i.v dapat terjadi nyeri loka dan felbilib
Interaksi
Aritmia hindarkan penggunaan bersama astemsol, terfenadian cisaperid.
Dosis
oral : 250 mg tiap 12 jam selama 7 hari, pada infeksi berat dapat ditingkatkan sampai 500 mg tiap 12 jam selama 14 hari Anak dengan berat badan kurang dari 8 kg, 7,5 mg/ kg dua kali sehari, 8-11 kg (1-2 tahun), 62,5 mg dua kali sehari; 12 -19 kg(3-6 tahun), 125 mg dua kali sehari; 20-29 kg (7—9 tahun), 187,5 mg dua kali sehari; 30-40 kg (10-12 tahun), 250 mg dua kali sehari.
Eradikasi H. pylori, lihat bagian 1.1 infus intraverna: 500 mg dua kali sehari pada vena besar, tidak dianjurkan untuk anak-anak.

7.      Polipeptida
Kelompok ini terdiri dari polimiksin B, polimiksin E (= kolistin), basi-trasin dan gramisidin, dan berciri struktur polipeptida siklis dengan gugusan-gugusan amino bebas. Berlainan dengan antibiotika lainnya yang semuanya diperoleh dari jamur, antibiotika ini dihasilkan oleh beberapa bakteri tanah. Polimiksin hanya aktif terhadap basil Gram-negatif termasuk Pseudomonas, basitrasin dan gramisidin terhadap kuman Gram-positif.
Khasiatnya berupa bakterisid berdasarkan aktivitas permukaannya (surface-active agent) dan kemampuannya untuk melekatkan diri pada membran sel bakteri, sehingga permeabilitas sel diperbesar dan akhirnya sel meletus. Kerjanya tidak tergantung pada keadaan membelah tidaknya bakteri, maka dapat dikombinasi dengan antibiotika bakteriostatik seperti kloramfenikol dan tetrasiklin.
Resorpsinya dari usus praktis nihil, maka hanya digunakan secara parenteral, atau oral untuk bekerja di dalam usus. Distribusi obat setelah" injeksi tidak merata, ekskresinya lewat ginjal.
Antibiotika ini sangat toksis bagi ginjal, polimiksin juga untuk organ pendengar. Maka penggunaannya pada infeksi dengan Pseu¬domonas kini sangat berkurang dengan munculnya antibiotika yang lebih aman (gentamisin dan karbenisilin).
8.      Golongan Antimikobakterium
Golongan antibiotika dan kemoterapetka ini aktif te rhadap kuman mikobakterium. Termasuk di sini adalah obat-obat anti TBC dan lepra, misalnya rifampisin, streptomisin, INH, dapson, etambutol dan lain-lain.

C.    MEKANISME KERJA ANTIBIOTIKA

http://4.bp.blogspot.com/_loCvfKf6TZ4/S7bPCQ9i3YI/AAAAAAAAAA4/y1mzPdL4KNo/s400/800px-Prokaryote_cell_diagram.svg.png

1.      Antibiotika yang menginhibisi sintesis atau menaktivasi enzim yg merusak dinding sel bakteri, misalnya: gol.Penisilin,Sefalosporin, Sikloserin,Vankomisin,Basitrasin
2.      Antibiotika yg bekerja lgs thdp membran sel,misalnya: Polimiksin, kolimestat, Antifungus polien,nistatin,amfoterisin B
3.      Antibiotika yg mengganggu fungsi ribosom,misalnya: kloramfenikol,tetrasiklin Z, antibiotika makrolida (eritromisin,linkomisin,klindamisin)
4.      Antibiotika yg difiksasi pada sub unit ribosom 30S,misalnya: gol.Aminoglikosida
5.      Antibiotika yg mengganggu metabolisme asm nukleat,misalnya: Rifampisin




Daftar Pustaka

http://katumbu.blogspot.com/2012/04/makalah-tentang-antibiotik.html
http://muhammadyogie87.blog.com/2012/11/03/makalah-antibiotik/
http://majalahkesehatan.com/amoksisilin-kegunaan-dan-efek-sampingnya/
http://mentaripastisukses.blogspot.com/2013/08/golongan-obat-antibiotik.html
http://yayanakhyar.wordpress.com/2010/08/28/benzylpenisilin/
http://ilmuantibiotik.blogspot.com/2013/05/mekanisme-kerja-antibiotik-dan.html

No comments:

Post a Comment