Thursday, 2 October 2014

ASKEP ANEMIA



BAB I
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN ANEMIA

A.    Pengertian
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal.  Anemia bukan merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh.  Secara fisiologis anemia terjadi apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke jaringan.

B.     Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau keduanya.  Kegagalan sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui.  Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hal ini dapat akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam sistem retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa.  Hasil samping proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah.  Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal ≤ 1 mg/dl, kadar diatas 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi biasanya dapat diperleh dengan dasar:
1.hitung retikulosit dalam sirkulasi darah;
2.derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.








Anemia
viskositas darah menurun
resistensi aliran darah perifer
penurunan transport O2 ke jaringan
hipoksia, pucat, lemah
beban jantung meningkat
kerja jantung meningkat
payah jantung


C.     Etiologi:
1.      Hemolisis (eritrosit mudah pecah)
2.      Perdarahan
3.      Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker)
4.      Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi  defisiensi besi, folic acid, piridoksin, vitamin C dan copper

D.    Klasifikasi anemia:
Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:
1.      Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
a.       Anemia aplastik
Penyebab:
1)        agen neoplastik/sitoplastik
2)        terapi radiasi
3)        antibiotic tertentu
4)        obat anti konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutason
5)        benzene
6)        infeksi virus (khususnya hepatitis)
Gejala-gejala:
-            Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
-            Defisiensi trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan saluran cerna, perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan saraf pusat.
Morfologis: anemia normositik normokromik



Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang
Kelainan sel induk (gangguan pembelahan, replikasi, deferensiasi)
Hambatan humoral/seluler
Gangguan sel induk di sumsum tulang
Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai
Pansitopenia
Anemia aplastik


b.      Anemia pada penyakit ginjal
Gejala-gejala:
- Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10 mg/dl
- Hematokrit turun 20-30%
- Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi
Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel darah merah maupun defisiensi eritopoitin

c.       Anemia pada penyakit kronis
Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia jenis normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan warna yang normal).  Kelainan ini meliputi artristis rematoid, abses paru, osteomilitis, tuberkolosis dan berbagai keganasan

d.      Anemia defisiensi besi
Penyebab:
- Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama hamil, menstruasi
- Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
-Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis, varisesoesophagus, hemoroid, dll.)
Gejala-gejalanya:
- Atropi papilla lidah
- Lidah pucat, merah, meradang
- Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
Morfologi: anemia mikrositik hipokromik





gangguan eritropoesis
Absorbsi besi dari usus kurang
sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
sel darah merah miskin hemoglobin
Anemia defisiensi besi

e.       Anemia megaloblastik
Penyebab:
-    Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat
- Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor (aneia rnis st gastrektomi) infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen kemoterapeutik,infeksi cacing pita, makan ikan segar yang terinfeksi, pecandu alkohol.

Sintesis DNA terganggu
Gangguan maturasi inti sel darah merah
Megaloblas (eritroblas yang besar)
Eritrosit immatur dan hipofungsi

2.      Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah disebabkan oleh destruksi sel darah merah.
Yaitu:
-       Pengaruh obat-obatan tertentu
-       Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia limfositikkronik
-    Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase
-    Proses autoimun
-    Reaksi transfusi
-    Malaria

Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit
Antigesn pada eritrosit berubah
Dianggap benda asing oleh tubuh
sel darah merah dihancurkan oleh limposit
Anemia hemolisis
E.     Tanda dan Gejala
1.      Lemah, letih, lesu dan lelah
2.      Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang
3.      Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi pucat.

F.      Kemungkinan Komplikasi yang muncul
Komplikasi umum akibat anemia adalah:
1.      Gagal jantung,
2.      Parestisia dan
3.      Kejang.

G.    Pemeriksaan Khusus dan Penunjang
1.      Kadar Hb, hematokrit, indek sel darah merah, penelitian sel darah putih, kadar Fe, pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar folat, vitamin B12, hitung trombosit, waktu perdarahan, waktu protrombin, dan waktu tromboplastin parsial.
2.      Aspirasi dan biopsy sumsum tulang. Unsaturated iron-binding capacity serum
3.      Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan adanya penyakit akut dan kronis serta    sumber kehilangan darah kronis.

H.    Terapi yang Dilakukan
Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti darah yang hilang:
1.       Anemia aplastik:
a.       Transplantasi sumsum tulang
b.      Pemberian terapi imunosupresif dengan globolin antitimosit(ATG)
2.      Anemia pada penyakit ginjal
a.       Pada paien dialisis harus ditangani denganpemberian besi dan asam folat
b.      Ketersediaan eritropoetin rekombinan
3.      Anemia pada penyakit kronis
Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak memerlukan penanganan untuk aneminya, dengan keberhasilan penanganan kelainan yang mendasarinya, besi sumsum tulang dipergunakan untuk membuat darah, sehingga Hb meningkat.
4.      Anemia pada defisiensi besi
a.       Dicari penyebab defisiensi besi
b.      Menggunakan preparat besi oral: sulfat feros, glukonat ferosus dan fumarat ferosus.
5.      Anemia megaloblastik
a.       Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12, bila difisiensi disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak tersedianya faktor intrinsik dapat diberikan vitamin B12 dengan injeksi IM.
b.      Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus diteruskan selama hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa atau malabsorbsi yang tidak dapat dikoreksi.
c.       Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet dan penambahan asam folat 1 mg/hari, secara IM pada pasien dengan gangguan absorbsi.










































BAB II
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
                                                                  
A.     Pengkajian
Pengkajian pada anemia meliputi :
1.    Riwayat penyakit
2.    Kaji adanya tanda-tanda anemia
a.    Pucat
b.    Kelemahan
c.    Sesak
d.   Nafas cepat
3.    Kaji adanya tanda-tanda leukopenia
a.    Demam
b.    Infeksi
4.    Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia :
a.    Ptechiae
b.    Purpura
c.    Perdarahan membran mukosa
5.    Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola :
a.    Limfadenopati
b.    Hepatomegali
c.    Splenomegali
6.    Kaji adanya pembesaran testis
7.    Kaji adanya :
a.    Hematuria
b.    Hipertensi
c.    Gagal ginjal
d.   Inflamasi disekitar rectal
e.    Nyeri

B.     Diagnosa Keperawatan
1.    Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
2.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d inadekuat intake makanan.
3.    Perfusi jaringan tidak efektif b.d  perubahan ikatan O2 dengan Hb, penurunan konsentrasi Hb dalam darah.
4.    Resiko Infeksi b/d imunitas tubuh skunder menurun (penurunan Hb), prosedur invasive
5.    PK anemia
6.    Kurang pengatahuan tentang penyakit dan perawatannya b/d kurang informasi.
7.    Sindrom deficite self care b.d kelemahan

C.     IntervensiKeperawatan
No
Diagnosa
Tujuan
Intervensi
1
Intoleransi aktivitas b.d ketidakseimbangan suplai & kebutuhan O2
Setelah dilakukan askep .... jam Klien dapatmenunjukkantoleransi terhadap aktivitas dengan KH:
·      Klien mampu aktivitas minimal
·      Kemampuan aktivitas meningkat secara bertahap
·      Tidak ada keluhan sesak nafas dan lelah selama dan setelah aktivitas minimal
Terapi aktivitas :
·      Kaji kemampuan aktivitas
·      Jelaskan pada klien manfaat aktivitas bertahap
·      Evaluasi dan motivasi keinginan klien untuk meningkatkan aktivitas
·      Berikan oksigen saat aktivitas.
Monitoring aktivitas :
·      Pantau  klien sebelum, selama, dan setelah aktivitas selama 3-5 menit.
Energi manajemen :
·       Rencanakan aktivitas saat klien mempunyai energi cukup untuk melakukannya.
·       Bantu klien untuk istirahat setelah aktivitas.
Manajemen nutrisi :
·      Monitor intake nutrisi untuk memastikan kecukupan sumber-sumber energi
Emosional support :
·      Berikan reinfortcemen positif bila klien mengalami kemajuan
2
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake nutrisi inadekuat, faktor psikologis
Setelah dilakukan asuhan keperawatan … jam klien menunjukan status nutrisi adekuatdengan KH:
BB stabil, tingkat energi adekuat, masukan nutrisi adekuat
Manajemen Nutrisi :
·      Kaji adanya alergi makanan.
·      Kaji makanan yang disukai oleh klien.
·      Kolaborasi team gizi untuk penyediaan nutrisi TKTP
·      Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisi TKTP dan banyak mengandung vitamin C
·      Anjurkan diet yang dikonsumsi mengandung cukup serat untuk mencegah konstipasi.
·      Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori.
·      Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi.
Monitor Nutrisi :
·      Monitor BB jika  memungkinkan
·      Monitor respon klien terhadap situasi yang mengharuskan klien makan.
·      Berikan pengobatan dan tindakan tidak bersamaan dengan waktu klien makan.
·      Monitor adanya mual muntah.
·      Kolaborasi untuk pemberian terapi sesuai order
·      Monitor adanya gangguan dalam input makanan misalnya perdarahan, bengkak dsb.
·      Monitor intake nutrisi dan kalori.
·      Monitor kadar energi, kelemahan dan kelelahan.
3
Perfusi jaringan tdk efektif b.dperubahan ikatan O2 dengan Hb, penurunan konsentrasi Hb dalam darah.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …  jamperfusi jaringan klien adekuatdengan KH:
·      Membran mukosa merah muda
·      Conjungtiva tidak anemis
·      Akral hangat
·      TTV dalam batas normal
Perawatan sirkulasi :
·      Lakukan penilaian secara komprehensif fungsi sirkulasi perifer. (cek nadi perifer,oedema, kapiler refil, temperatur ekstremitas).
·      Evaluasi nadi, oedema
·      Inspeksi kulit dan palpasi anggota badan
·      Kaji nyeri
·      Atur posisi pasien, ekstremitas bawah lebih rendah untuk memperbaiki sirkulasi.
·      Berikan terapi antikoagulan.
·      Anjurkan klien untuk merubah posisi  jika memungkinkan
·      Monitor status cairan intake dan output
·      Berikan makanan yang adekuat untuk menjaga viskositas darah
4
Risiko infeksi b/d imunitas tubuh menurun, prosedur invasif
Setelah dilakukan askep …. jam tidak terdapat faktor risiko infeksi dengan KH:
·      Bebas dari gejala infeksi
·      Angka leukosit normal (4-11.000)
Kontrol infeksi :
·      Bersihkan lingkungan setelah dipakai klien lain.
·      Batasi pengunjung bila perlu dan anjurkan untuk istirahat yang cukup
·      Anjurkan keluarga untuk cuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan klien.
·      Gunakan sabun anti mikroba untuk mencuci tangan.
·      Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan.
·      Gunakan baju dan sarung tangan sebagai alat pelindung.
·      Pertahankan lingkungan yang aseptik selama pemasangan alat.
·      Lakukan perawatan luka dan dresing infus setiap hari
·      Tingkatkan intake nutrisi. Dan cairan yang adekuat
·      Berikan antibiotik sesuai program.
Proteksi terhadap infeksi :
·      Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal.
·      Monitor hitung granulosit dan WBC.
·      Monitor kerentanan terhadap infeksi.
·      Pertahankan teknik aseptik untuk setiap tindakan.
·      Inspeksi kulit dan mebran mukosa terhadap kemerahan, panas.
·      Monitor perubahan tingkat energi.
·      Dorong klien untuk meningkatkan mobilitas dan latihan.
·      Instruksikan klien untuk minum antibiotik sesuai program.
·      Ajarkan keluarga/klien tentang tanda dan gejala infeksi dan melaporkan kecurigaan infeksi.
5
Anemia
Setelah dilakukan askep .....  jam perawat  dapat meminimalkan terjadinya komplikasi anemia, dengan KH :
·      Hb >/= 10 gr/dl.
·      Konjungtifa tidak anemis
·      Kulit tidak pucat dan hangat
·      Monitor tanda-tanda anemia
·      Observasi keadaan umum klien
·      Anjurkan klien untuk meningkatkan asupan nutrisi yg bergizi
·      Kolaborasi untuk pemberian terapi intravena dan tranfusi darah
·      Kolaborasi kontrol Hb, HMT, Retic, status Fe
6
Defisit pengetahuan tentang penyakit dan perawatannya b.d kurang paparan terhadap sumber informasi, terbatasnya kognitif
Setelah diberikan penjelasan selama …. X pengetahuan klien dan keluarga meningkat, dengan KH:
·      Klien mengerti proses penyakitnya dan program perawatan.
·      Klien mampu menjelaskan kembali tentang apa yang dijelaskan
·      Klien / keluarga kooperatif
Teaching : Dissease Process
·      Kaji  tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang proses penyakit
·      Jelaskan tentang patofisiologi penyakit, tanda dan gejala serta penyebabnya
·      Sediakan informasi tentang kondisi klien
·      Berikan informasi tentang perkembangan klien
·      Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk mencegah komplikasi di masa yang akan datang dan atau kontrol proses penyakit
·      Diskusikan tentang pilihan tentang terapi atau pengobatan
·      Jelaskan alasan dilaksanakannya tindakan atau terapi
·      Gambarkan komplikasi yang mungkin terjadi
·      Anjurkan klien untuk mencegah efek samping dari penyakit
·      Anjurkan klien untuk melaporkan tanda dan gejala yang muncul pada petugas kesehatan
7
Defisit perawatan diri b/d kelemahan, penyakitnya
Setelah dilakukan askep … jam klien dan keluarga dapatmerawat diri / activity daily living (adl) dengan KH:
·      Kebutuhan klien sehari-hari terpenuhi (makan, berpakaian, toileting, berhias, hygiene, oral higiene)
·      Klien bersih dan tidak bau.
Bantuan perawatan diri
·      Monitor kemampuan pasien terhadap perawatan diri yang mandiri
·      Monitor kebutuhan akan personal hygiene, berpakaian, toileting dan makan, berhias
·      Berikan bantuan sampai klien mempunyai kemampuan untuk merawat diri
·      Bantu klien dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
·      Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuannya
·      Pertahankan aktivitas perawatan diri secara rutin
·      Dorong untuk melakukan secara mandiri tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu melakukannya.
·      Berikan reinforcement positif







DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth., 2001., Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 Volume 2., EGC., Jakarta
Doenges.E Moorhouse & Geissler ., 1999., Rencana Asuhan Keperawatan , edisi 3 ., EGC., Jakarta
Handayani & Hariwibowo.,2008.,Asuhan Keperawatan pada Klien dengan gangguan system Hematologi.,Salemba Medika .,Jakarta
Hoffbrand,Pettit, & Moss.,2005.,Kapita Selekta Hematologi., EGC.,Jakarta
Price & Wilson., 2005., Patofisiologi, edisi 6 Volume 1 ., EGC., Jakarta


No comments:

Post a Comment