Monday, 27 October 2014

KELOMPOK 2 - Model Keperawatan Fungsional




MAKALAH
MODEL KEPERAWATAN METODE FUNGSIONAL

Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas :
Mata Kuliah : Keperawatan Profesional



Disusun Oleh :
1.     Akhmad Aji Mulyanto   ( P17420313048)
2.     Dimas Janu Pratama      ( P17420313057)
3.     Khilda Sari                    ( P17420313066)
4.     Novi Dewi Fatmaningsih         ( P17420313075)
5.     Sulton Akbar Nafis        ( P17420313085)
                         Kelas : 2 reguler B

POLITEKNIK KEMENKES SEMARANG
PRODI DIII KEPERAWATAN PEKALONGAN
TAHUN 2014

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kemajuan jaman menuntut perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan untuk bersikap profesional. Profesionalisme perawat dapat diwujudkan dibidang pelayanan kesehatan di rumah sakit. Salah satu usaha untuk memberikan pelayanan yang berkualitas dan profesional tersebut adalah pengembangan model praktek keperawatan fungsional (MPKP) yang memungkinkan perawat fungsional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut. MPKP sangat bermanfaat bagi perawat, dokter, pasien dan profesi lain dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Dengan MPKP, perawat dapat memahami tugas dan tanggung jawabnya terhadap pasien sejak masuk hingga keluar rumah sakit. Implementasi MPKP harus ditunjang dengan sumber daya manusia, sarana dan prasarana yang memadai.
Banyak metode praktek keperawatan yang telah dikembangkan selama 35 tahun terakhir ini, yang meliputi keperawatan fungsional, keperawatan tim, keperawatan primer, praktik bersama, dan managemen kasus. Setiap unit keperawatan mempunyai  upaya untuk menyeleksi model yang paling tepat berdasarkan kesesuaian antara ketenagaan, sarana dan prasarana, dan kebijakan rumah sakit. Katagori pasien didasarkan atas, tingkat pelayanan keperawatan yang dibutuhkan pasien , Usia, Diagnosa atau masalah kesehatan yang dialami pasien dan terapi yang dilakukan (Bron , 1987). Pelayanan yang fungsional identik dengan pelayanan yang bermutu, untuk meningkatkan mutu asuhan keperawatan dalam melakukan kegiatan penerapan standart asuhan keperawatan dan pendidikan berkelanjutan. Dalam kelompok keperawatan yang tidak kalah pentingnya yaitu bagaimana caranya metode penugasan tenaga keperawatan agar dapat dilaksanakan secara teratur, efesien tenaga, waktu dan ruang, serta meningkatkan ketrampilan dan motivasi kerja. Menurut Tappen (1995), model pemberian asuhan keperawatan ada enam macam, yaitu: model kasus, model fungsional, model tim, model primer, model manajemen perawatan, dan model perawatan berfokus pada pasien. 

B. Rumusan Masalah
1.     Apakah Model Keperawatan Metode Fungsional
2.     Apakah kelebihan dan kelemahan metode fungsional


C. Tujuan Masalah
Tujuan umum :
1.      Mahasiswa dapat memahami Model Keperawatan metode fungsional
Tujuan khusus :
Mahasiswa dapat menjelaskan tentang :
1.      Pengertian Model Praktik Keperawatan fungsional
2.      Tujuan Model Praktik Keperawatan fungsional
3.      kelebihan dan kelemahan keperawatan fungsional































BAB II
PEMBAHASAN

A.    Metode Fungsional
Model pemberian asuhan keperawatan ini berorientasi pada penyelesaian tugas dan prosedur keperawatan. Perawat ditugaskan untuk melakukan tugas tertentu untuk dilaksanakan kepada semua pasien yang dirawat di suatu ruangan. Model ini digambarkan sebagai keperawatan yang berorientasi pada tugas dimana fungsi keperawatan tertentu ditugaskan pada setiap anggota staff. Setiap staff perawat hanya melakukan 1-2 jenis intervensi keperawatan pada semua pasien dibangsal. Misalnya seorang perawat bertanggung jawab untuk pemberian obat-obatan, seorang yang lain untuk tindakan perawatan luka, seorang lagi mengatur pemberian intravena, seorang lagi ditugaskan pada penerimaan dan pemulangan, yang lain memberi bantuan mandi dan tidak ada perawat yang bertanggung jawab penuh untuk perawatan seorang pasien.
Seorang perawat bertanggung jawab kepada manajer perawat. Perawat senior menyibukan diri dengan tugas manajerial, sedangkan perawat pelaksana pada tindakan keperawatan. Penugasan yang dilakukan pada model ini berdasarkan kriteria efisiensi, tugas didistribusikan berdasarkan tingkat kemampuan masing-masing perawat dan dipilih perawat yang paling murah. Kepala ruangan terlebih dahulu mengidentifikasm tingkat kesulitan tindakan, selanjutnya ditetapkan perawat yang akan bertanggung jawab mengerjakan tindakan yang dimaksud. Model fungsional ini merupakan metode praktek keperawatan yang paling tua yang dilaksanakan oleh perawat dan berkembang pada saat perang dunia kedua.

B.     Kelebihan dan Kelemahan metode fungsional
1.    Kelebihan metode fungsional :
·         Efisien karena dapat menyelesaikan banyak pekerjaan dalam waktu singkat dengan pembagian tugas yang jelas dan pengawasan yang baik
·         Sangat baik untuk rumah sakit yang kekurangan tenaga
·         Perawat akan trampil untuk tugas pekerjaan tertentu saja
·         Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai kerja
·         Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang  berpengalaman untuk tugas sederhana
·         Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staf atau peserta didik yang melakukan praktek untuk ketrampilan tertentu.
2.    Kelemahan metode fungsional:
·      Pelayanan keperawatan terpisah-pisah atau tidak total sehingga kesulitan dalam penerapan proses keperawatan
·      Perawat cenderung meninggalkan klien setelah melakukan tugas pekerjaan
·      Persepsi perawat cenderung kepada tindakan yang berkaitan dengan ketrampilan saja
·      Tidak memberikan kepuasan pada pasien ataupun perawat lainnya.
·      Menurunkan tanggung jawab dan tanggung gugat perawat
·      Hubungan perawat dank klien sulit terbentuk



 













Gambar 1.1 : Sistem pemberian asuhan keperawatan fungsional (Marquis & Huston, 1988)












BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Dalam model keperawatan metode fungsional  Perawat akan melaporkan tugas yang dikerjakannya kepada kepala ruangan dan kepala ruangan tersebut bertanggung jawab dalam pembuatan laporan klien. Metode fungsional mungkin efisien dalam menyelesaikan tugas-tugas apabila jumlah perawat sedikit, tetapi klien tidak mendapatkan kepuasan asuhan yang diterimanya.

B.     Saran
     Untuk perawat : Dalam metode ini memang sangat efisien untuk menyelesaikan tugas keperawatan namun alangkah baiknya untuk tindakan keperawatan pada pasien dilakukan dengan sebaik mungkin agar kebutuhan pasien terpenuhi.






DAFTAR PUSTAKA

Achir Yani, Model Praktek Keperawatan di Rumah Sakit, disampaikan pada      seminar keperawatan yang diselenggarakan DPD I PPNI, Jawa timur di Surabaya, 11 Desember 1999.
 Cobell, C. ( 1992) , The efficacy of primary Nursing as a Foundation For Patient Advocacy Nursing Practic, hal : 2-5
 Douglas, LM. (1984) , the Effevtive Nurse Leader and Menager, Second edition, St. Louis, the CV Mosby.
 Gillies, D. (1989) , Nursing Management company a Sistem Approach, Philadelphia, W.B. Saunders. Huber,. D., (2000). Leadershi~ and nursing care management Philadelpia:






No comments:

Post a Comment